Pemikiran
reflektif terkait pengalaman belajar
Konsep kepemimpinan murid berakar pada prinsip bahwa murid memiliki
kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka
sendiri dan dunia di sekitar mereka. Kepemimpinan murid dapat dilihat sebagai
kapasitas untuk menetapkan tujuan, melakukan refleksi dan bertindak secara
bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan. Kepemimpinan murid adalah
tentang murid yang bertindak secara aktif, dan membuat keputusan serta
pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang
ditentukan oleh orang lain. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam
menciptakan program yang melibatkan murid, baik dalam kegiatan intrakurikuler,
kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar
Saya senang dan merasa tertantang untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran
dan memberikan yang terbaik untuk murid, yaitu dengan merancang program-program
yang menguatkan kepemimpinan murid (student agency) yaitu yang mampu
mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan
opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi
dan berkontribusi pada komunitas belajar dan melakukan tindakan nyata sebagai
hasil proses belajarnya.
Apa yang
sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar
1. Saya menyadari bahwa sebagai pemimpin
pembelajaran, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program sangat penting.
2. Program kegiatan pembelajaran yang melibatkan
kepemimpinan murid akan memberikan pengaruh yang lebih besar dalam pembentukan
profil pelajar Pancasila.
3. Saya sudah menemukan gambaran program yang akan
saya jalankan dengan melibatkan suara, pilihan dan kepemilikan murid.
Apa yang
perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar
Yang perlu diperbaiki setelah mempelajari modul ini adalah kebiasaan membuat
program tanpa melibatkan suara, pilihan dan kepemilikan murid, sehingga menjadikan
program tersebut seperti memaksa murid untuk menjalankannya. Keterlibatan murid
yang minim dalam pemiihan program dan perumusan rincian kegiatan merupakan kebiasaan
yang dapat menjadikan gagalnya program tersebut.
Apa intisari yang Anda dapatkan dari modul ini?
Pentingnya kepemimpinan murid dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, yaitu berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran, karena murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan.
Suara murid bukan hanya tentang memberi mereka kesempatan
untuk menyampaikan ide dan pendapat, tetapi juga tentang memberdayakan mereka
untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi
pembelajaran mereka. Dengan melibatkan murid dalam berbagai aspek sekolah,
seperti perencanaan pembelajaran, penilaian, dan kebijakan, kita dapat
menumbuhkan budaya saling mendengarkan dan mendorong partisipasi mereka dalam
menciptakan perubahan positif.
Memberikan pilihan kepada murid dalam proses pembelajaran
meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan otonomi mereka, serta memberdayakan
mereka untuk lebih aktif dalam pengalaman belajar. Guru dapat mendorong ini
dengan memberikan kesempatan bagi murid untuk memilih cara belajar, berperan
dalam kegiatan, serta mengelola dan mengevaluasi proses belajar mereka sendiri.
Kepemilikan dalam pembelajaran berkembang melalui rasa
tanggung jawab, keterlibatan, dan investasi pribadi murid dalam proses belajar
mereka. Untuk mempromosikan kepemilikan murid, guru dapat memberikan mereka
kesempatan untuk memilih kegiatan, berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum,
menetapkan tujuan, dan menilai diri sendiri. Menciptakan lingkungan yang
mendukung otonomi, menghargai umpan balik, dan melibatkan murid dalam
pengaturan kelas serta pembelajaran, akan meningkatkan rasa kepemilikan mereka
terhadap proses belajar.
Lingkungan yang Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid
1.
Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk
murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif.
2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan
berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana, di mana murid akan
menjunjung tinggi nilai-nilai sosial positif yang berbasis pada nilai-nilai
kebajikan yang dibangun oleh sekolah.
3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang
dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun
non-akademiknya.
4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan
memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat
menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan
kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun
golongan.
6. Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian
rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri.
7. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan
sikap tangguh murid untuk terus
bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
Dalam rangka mewujudkan lingkungan belajar yang dapat
menumbuhkan kepemimpinan
murid, maka guru dan sekolah tentunya tidak dapat bekerja sendiri. Mereka akan
memerlukan dukungan dari berbagai pihak, Salah satunya dari komunitas
Komunitas adalah bentuk dari aset sosial yang dimiliki
sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program/kegiatan
pembelajaran di sekolah. Yang dimaksud dengan komunitas di sini dapat terdiri
dari murid, guru, orang tua, orang dewasa lain yang ada di sekitar murid, dan
masyarakat atau lingkungan sekitar, yang baik secara langsung maupun tidak
langsung dapat mempengaruhi proses belajar murid, yaitu komunitas keluarga, komunitas
kelas, komunitas sekolah dan komunitas sekitar sekolah serta komunitas yang
lebih luas.
Apa keterkaitan yang dapat Anda lihat antara Modul
ini dengan modul-modul sebelumnya?
Keterkaitan modul ini dengan modul-modul sebelumnya saling
mendukung dan melengkapi dalam proses pembelajaran berpihak pada murid. Keterkaitan
modul 3.3 dengan modul:
Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewantara. Guru
mempunyai peran strategis untuk menuntun segala kodrat yang ada pada murid
sehingga mereka dapat bahagia dan selamat sebagai individu masyarakat. Adapun
dalam mengelola program sekolah yang berdampak pada murid hendaknya melibatkan
murid dan memperhatikan pengembangan potensi atau kodrat murid.
Modul 1.2 Nilai dan peran guru penggerak. Dalam
upaya menyusun dan mengelola program yang berdampak pada murid, penting bagi
guru untuk menjunjung nilai-nilai seperti mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif, dan berpihak pada murid. Nilai-nilai ini harus menjadi landasan bagi
guru dalam perencanaandan pelaksanaan kegiatan sehingga dapat memberikan
pengaruh positif pada murid.
Modul 1.3 Visi guru penggerak. Guru harus
memiliki visi yang mengarah kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau
perubahan di sekolah. Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak
pada murid dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model
BAGJA, dengan terlebih dahulu memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan
mengembangkan aset atau potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan
program sekolah yang berdampak pada murid
Modul 1.4. Budaya Positif. Lingkungan yang mendukung
perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat
pada anak-anak. Ibarat petani, guru hendaknya dapat mengoptimalkan sumber daya
lingkungan yang positif dan mengembangkan budaya positif agar anak-anak dapat
tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman dan mendukung program yang
berdampak pada murid.
Modul 2.1 Pembelajaran untuk memenuhi
kebutuhan belajar murid. Merencanakan dan mengelola program yang berdampak
pada murid tidak terlepas dari pemahaman terhadap kebutuhan individu murid,
seperti tingkat kesiapan belajar mereka, minat belajar, dan profil belajar
masing-masing murid. Dengan demikian memungkinkan guru untuk merancang program-program
yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu murid, sehingga program
tersebut dapat berdampak positif sesuai dengan keunikan masing-masing murid.
Modul 2.2 Pembelajaran emosional dan sosial. Dalam
perencanaan program yang berdampak positif pada murid, sangat penting bagi guru
untuk mengintegrasikan pembelajaran social emosional. Ini diperlukan agar
memfasilitasi kesadaran penuh (mindfulness) pada murid.
Modul 2.3, Coaching untuk supervisi akademik.
Coaching sebagai teknik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran untuk
menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh anak. Coaching juga
memberikan keleluasaan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir.
Modul 3.1 Pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai
kebajikan seorang pemimpin. Guru sebagai seorang pemimpin
pembelajaran dapat mengambil keputusan secara bijak, yaitu keputusan yang
berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau nilai dalam pengambilan
keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan
moral.
Modul 3.2 Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran maupun pengelola program sekolah harus
dapat memetakan dan mengidentifikasi aset-aset yang ada di sekolah, baik aset
fisik maupun non fisik. Pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset based
thinking) akan lebih dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh
sekolah sebagai komunitas belajar, dibandingkan dengan pendekatan berbasis
masalah/kekurangan (deficit based thinking).
Modul 3.3 Pengelolaan program yang berdampak positif pada
murid. Dengan 7 aset, guru dapat memanfaatkannya untuk mendesain 7 jenis lingkungan
dan menentukan beberapa jenis lingkungan yang akan di wujudkan dengan program
yang berdampak positif kepada murid. Program yang dibuat hendaknya dibuat atas
dasar suara, pilihan dan kepemilikan murid.
Jelaskan perspektif program yang berdampak positif pada murid dan bagaimana program atau kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi agar program dapat berdampak positif pada murid?
Merumuskan kegiatan sekolah dengan perencanaan, pelaksanaan
dan refleksi evaluasi dilakukan secara kolaboratif dan memberdayakan
aset/kekuatan sumber daya yang dimiliki sekolah.
Perencanaan program dilaksanakan secara kolaboratif
berdasarkan kebutuhan murid dengan mewujudkan lingkungan karakteristik yang
menumbuhkembangkan kepemimpinan murid didukung sumber daya, aset, modal,
potensi, kekuatan yang dimiliki sekolah melalui prakarsa perubahan dengan
paradigma inkuiri apresiatif BAGJA, memberikan ruang kepada murid untuk bersuara,
memberi pilihan dan kepemilikan.
Pelaksanaan program atau kegiatan ini memberdayakan murid
untuk menjadi pemimpin dalam proses belajarnya sendiri. Murid mampu
mempromosikan suara, pilihan, kepemilikan sendiri melalui proses yang
memerdekakan sehingga murid mampu menjadi agen perubahan dan guru menjadi mitra
belajar murid dengan menuntun dan memberikan umpan balik atas capaian
perkembangan belajar murid.
Evaluasi terhadap program atau kegiatan ini maka guru dan murid berkolaboratif melakukan penilaian, refleksi evaluasi secara menyeluruh, sistematis, berkala dan berkelanjutan untuk mengukur seberapa efektif dampak positif yang diharapkan muncul. Kegiatan reflektif evaluasi untuk mengetahui apakah program atau kegiatan sudah efektif memenuhi tujuan yang diharapkan dan apakah program atau kegiatan telah mampu menumbuhkembangkan kepemimpian murid.
Post a Comment