Koneksi Antar Materi Modul 1.4



Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan  sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak.


Peran saya sebagai guru dalam penerapan budaya positif di sekolah adalah saya akan memberikan contoh bagi rekan sejawat dan mengimbaskan pengetahuan yang saya dapatkan selama pendidikan guru penggerak khususnya tentang budaya positif kepada semua warga sekolah.

Penerapan budaya positif dapat dilakukan melalui penerapan disiplin positif dan segitiga restitusi. 

DISIPLIN POSITIF

Kebanyakan orang akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur dan kepatuhan pada peraturan, hukuman dan ketidaknyamanan. Kata disipline dapat diartikan belajar dan atau murid (pengikut). Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Motivasi ektrinsik meliputi menghindari ketidaknyamanan (hukuman), mendapatkan imbalan atau penghargaan orang lain, sedangkan motivasi intrinsik yaitu menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percayai. Nilai-nilai yang dipercayai adalah nilai kebajikan universal yaitu nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya. Nilai kebajikan universal merupakan sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Nilai-nilai kebajikan universal inilah yang selanjutnya akan dijadikan nilai yang akan diyakini dan disepakati bersama dalam perumusan keyakinan sekolah/kelas.

Makna disiplin positif adalah mentaati keyakinan sekolah/kelas dengan motivasi intrinsik (ingin menjadi seperti yang mereka inginkan)


SEGITIGA RESTITUSI

Segitiga restitusi digunakan untuk menyelesaikan permasalahan ketidaksesuaian antara perilaku murid dengan keyakinan sekolah/kelas dengan langkah-langkah :

1.       Menstabilkan identitas

2.       Validasi tindakan yang salah

3.       Menanyakan keyakinan kelas

Ketika menjalankan segitiga restitusi, guru harus memahami:

Lima Posisi kontrol, kontrol negatif (penghukum, pembuat rasa bersalah), kontrol positif (teman, pemantau) dan kontrol diri (manager)

Lima kebutuhan dasar manusia, yaitu fisiologis (bertahan hidup) dan psikologis (kasih sayang dan rasa diterima, kebebasan, kesenangan dan penguasaan) 


Untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak kepada murid sesuai dengan filosofi KHD, dibutuhkan budaya positif yang sudah dijalankan di sekolah. Budaya positif dapat diwujudkan jika guru dapat menjalankan perannya dengan baik di sekolah dengan mengacu pada visi sekolah, visi guru dengan prakarsa perubahan yang dijalankannya.

=======================

Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman Anda atas keseluruhan materi Modul Budaya Positif ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1.    Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Menurut pemahaman saya, bahwa konsep inti budaya positif adalah disiplin positif dan restitusi. Pembahasan disiplin positif meliputi motivasi tindakan manusia (ekstrinsik dan intrinsik), nilai-nilai kebajikan universal, keyakinan sekolah/kelas. Pembahasan restitusi meliputi lima posisi kontrol dan lima kebutuhan dasar manusia.

Hal yang menarik bagi saya adalah posisi kontrol penghukum dan pembuat rasa bersalah ternyata masuk dalam kontrol negatif dan tentu harus dihindari. Kemudian hukuman atau penghargaan dalam pembelajaran (bukan dalam kompetisi) ternyata membawa dampak yang negatif bagi murid.

 

2.     Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Ternyata untuk menciptakan budaya positif yang mendukung terciptanya pembelajaran yang berpihak kepada murid akan mudah diwujudkan, jika keyakinan sekolah/kelas dibuat dengan kesepakatan semua warga sekolah dan dijalankan dengan motivasi intrinsik setiap warga sekolah.

 

3.      Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Pengalaman selama penerapan budaya positif yaitu ketika membuat keyakinan kelas bersama-sama dengan murid, saya mulai belajar mengubah peraturan menjadi keyakinan yang akan menjadi landasan dalam penyelesaian masalah di dalam kelas. Sedangkan keyakinan sekolah masih dalam perencanaan, karena ini melibatkan semua warga sekolah, maka diperlukan perencanaan yang matang. Untuk keyakinan sekolah berdasarkan pengamatan yang sangat perlu untuk saat ini adalah tentang melaksanakan tugas piket umum dan piket kelas, suasana pergantian jam bagi siswa dan persiapan kegiatan siswa di lapangan serta terkait pengolahan sampah di sekolah. Mencoba melakukan penyelesaian masalah dengan segitiga restitusi kepada murid yang sedang bermasalah dalam pembelajaran di kelas, yaitu membolos saat jam pelajaran guru lain. Dengan mencoba secara langsung tanpa skenario memberikan pengalaman yang penting bagi saya untuk memulai melakukan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah.

 

4.      Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Saya merasa sangat termotivasi ketika membuat keyakinan kelas dan merancang keyakinan sekolah serta mencoba mempraktekkan segitiga restitusi baik yang saya lakukan secara spontan maupun yang saya lakukan dengan membuat skenario terlebih dahulu (demostrasi konstektual).

 

5.      Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Hal-hal yang sudah baik dalam penerapan budaya positif adalah siswa bersemangat dalam membuat keyakinan kelas dan siswa dapat merasakan indahnya penyelesaian masalahnya dengan menggunakan segitiga restitusi. Hal yang masih perlu dibuat dan diperbaiki adalah tersusunnya keyakinan sekolah dan penggunaan segitiga restitusi oleh semua guru, terutama guru bimbingan konseling dan juga kepala sekolah.

 

6.     Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 

Dari 5 (lima) posisi kontrol, ternyata yang saya lakukan selama ini adalah posisi sebagai penghukum dan pembuat rasa bersalah. Setelah saya mempelajari modul ini, saya mencoba untuk meninggalkan posisi penghukum dan pembuat rasa bersalah, dan mulai mencoba berubah ke posisi kontrol sebagai teman, sebagai pemantau dan sebagai manager. Dengan perpindahan posisi kontrol tersebut menjadikan saya lebih termotivasi dan lebih bisa menahan amarah ketika menghadapi murid yang bermasalah. Perbedaannya saya sudah mulai menggunakan posisi kontrol yang positif dan menuju posisi kontrol diri.

 

7.      Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Saya pernah menyelesaikan permasalahan siswa yang bermasalah dalam pembelajaran di kelas, yaitu sering menggangu teman sekelas saat pembelajaran berlangsung. Identifikasi tindakan saya sesuai dengan tahapan restitusi yaitu saya baru melaksanakan menstabilkan identitas dan validasi tindakan yang salah, belum sampai pada menanyakan keyakinan dan menyerahkan murid untuk mencari solusi atas permasalahannya.

 

8.     Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Hal lain yang perlu ditambahkan dalam modul ini yaitu bagaimana memberikan pemahaman kepada orang tua murid yang membela atau menyetujui tindakan yang salah yang dilakukan oleh anaknya, misalnya dalam kasus, siswa diketahui merokok dan sudah kecanduan rokok, setelah dilakukan restitusi diperoleh keterangan bahwa tindakan merokok tersebut diizinkan oleh orang tuanya.  


=================




Post a Comment

Previous Post Next Post